Rabu, 11 Maret 2009

KEDUDUKAN MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam sejarah perkembangan manusia, manusia terus mengalami perkembangan namun dalam proses perkembangannya, manusia terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Sehingga dalam perkembangannya, manusia berkembang secara variatif ada yang berkembang sesuai dengan fitrahnya sehingga mampu menjadi manusia seutuhnya, disisi lain juga terdapat manusia yang melenceng dari fitrahnya dan justru menuruti hawa nafsunya. Terkait dengan ini kita mengenal tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai manusia yang berhasil mengembangkan dirinya sesuai dengan fitrahnya, namun juga terdapat nama-nama yang dipandang melenceng dari fitrahnya.

Terkait dengan perkembangan mansuia selalu membutuhkan bantuan orang lain. Manusia saling bertukar pengalaman sehingga manusia yang sebelumnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. Proses saling membantu ini pada awalnya dilakukan secara kurang terencana dan terprogram. Hal inilah yang mengilhami lahirnya pendidikan.

Dalam proses pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara memandang manusia. Cara pandang yang berbeda akan berimplikasi pada berbedanya cara mendidik manusia. Manakala manusia dipandang sebagai makhluk yang condong kepada kesenangan (hidonis) misalnya, menjadi sistem nilai yang dianut, maka pendidikan akan mengarah kepada bagaimana membantu manusia memperoleh kesenangan-kesenangan tersebut. Cara memahami konsep manusia yang “salah” akan berakibat pada cara mendidik yang “salah” pula. Oleh karena itu pembahasan terkait kedudukan manusia dalam pendidikan Islam sangatlah penting dalam upaya menciptakan sistem pendidikan Islam. Pembahasan tentang hakekat manusia, sifat-sifat manusia, manusia sebagai elemen utama dalam pendidikan dan pengembangan manusia dalam perspektif Islam diharapkan dapat dijadikan pijakan untuk membantu perkembangan manusia sesuai dengan kehendak Allah.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakekat Manusia Dalam Pandangan Islam

Hakekat manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk mengemban amanah Allah sebagai Abdullah dan khalifah Allah, yang dapat dipandang sebagai representasi “perjanjian primordial” antara manusia dengan Allah.[1] Secara sempit manusia sebagai Abdullah hanya mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah (Ad Dzariyat 56) dengan penuh keikhlasan yang diekspresikan dalam bentuk kepasrahan dan ketaatan pada semua titahnya, dan secara luas meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya dengan menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya.[2]

Sedangkan manusia sebagai khalifah Allah mengacu pada tugas manusia untuk menjadi leader (baca : khalifah) di muka bumi. Istilah khalifah dapat dipahami : (a). Menggantikan yang lain karena tidak ada / tidak hadir, meninggal dunia karena lemah, (b). Menggantikan karena diberi penghargaan atau kemulyaan. Dalam pengertian yang kedua inilah yang dimaksud Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi (Fathir ayat 39, al An’am ayat 166 dll). Tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi antara lain menyangkut tugas kemakmuran di muka bumi (Hud ayat 61), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi ( al Maidah 16). Tugas ini dapat dikembangkan dalam bentuk tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam semesta.[3] Tugas kekhalifahan ini merupakan perwujudan dari pelaksanaan dari pengabdian kepadanya (Abdullah), tentunya sebagai Abdullah dalam pengertian yang luas.

Supaya manusia dapat melaksanakan dan mempertanggungjawabkan amanah Allah tersebut, maka manusia diciptakan dalam bentuk yang sempurna. Manusia terdiri dari dua substansi, yaitu : (1) Substansi jasad / materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk pada dan mengikuti sunnatullah (hukum alam), (2) Substansi Immateri / non jasad yaitu peniupan roh (ciptaan Allah) kedalam diri manusia. Terkait dengan ini manusia sering disebut sebagai makhluk dwi tunggal yang terdiri atas unsur jasmaniah dan unsur rohaniah. [4]

Dengan demikian, manusia dapat melaksanakan fugnsi, baik sebagai Abdullah ataupun khalifallah, dimuka bumi karena manusia termasuk bagian dari bumi, disisi lain manusia dapat dimintai pertanggungjawabannya karena ada roh yang akan melanjutkan eksistensinya dalam kehidupan selanjutnya.

Sedangkan upaya manusia mempunyai “kemampuan” untuk mengemban amanah Allah, manusia dibekali dengan bermacam-macam alat potensial dengan berbagai kemampuannya yang unik. Dalam diri manusia terdapat 3 jiwa:

(1) Jiwa tumbuhan (al nafs al nabatiyah), yang mempunyai tiga daya: makan, tumbuh dan berkembang biak.

(2) Jiwa binatang (al nafs al hayawaniyah) yang mempunyai dua daya: a. Daya penggerak (al muharrikah) dalam bentuk nafsu dan amanah, b. Daya menyerap (al mudrikah). Daya penggerak bisa berbentuk nafsu (al syhawah) serta amarah (al ghadlab) dan bisa berbentuk gerak tempat (al harakah al makaniyah). Daya menyerap terbagi dua, yaitu daya menyerap dari luar panca indra lahir (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan lidah dan tubuh), dan daya menyerap dari dalam melalui panca indera batin, yang meliputi: (1) Indra bersama (al hiss al musytarak) bertempat dibagian depan dari otak dan berfungsi menerima kesan-kesan yang diperoleh dari panca indera luar dan meneruskannya ke indera batin berikutnya, (2) Indera penggambar (al khayal), juga bertempat dibagian depan dari otak, tugasnya ialah melepaskan pesan-pesan yang diteruskan indera bersama dari materinya, (3) Indera pengreka (al mutakhayyalah), yang bertempat dibagian tengah dari otak mengatur gambar-gambar yang telah dilepaskan dari materi itu dengan memisah-misah dan kemudian memperhubungkannya satu dengan yang lainnya, (4) Indera penganggap (al wahmiyah), juga bertempat ditengah dari otak mempunyai fungsi menangkap arti-arti yang dikandung gambaran-gambaran itu, (5) Indera pengingat (al hafidhah), yang bertempat dibagian belakang bagian otak, menyimpan arti-arti yang ditangkap indera pengganggap.

(3) Jiwa manusia (al Nafs al Insaniyah) yang hanya mempunyai daya berpikir yang disebut akal. Akal ini terbagi menjadi dua: yaitu akal praktis yang menerima arti yang berasal dari materi melalui indera penginggat yang ada pada jiwa binatang dan akal teoritis yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, ruh dan malaikat. Dengan demikian, akal praktis memusatkan perhatiannya kepada alam materi, menangkap kekhususan (partikulares), sedangkan akal teoritis bersifat metafisis, yang mencurahkan perhatian kepada dunia immateri dan menanggap keumuman (universal) selanjutnya akal teoritis mempunyai 4 derajat yaitu: 1. akal materiil ( al aqal al hayulani) yang merupakan potensi belakan, dalam arti akal yang kesanggupannya untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi belum keluar, 2. akal bakat ( al aqal fi malakah), yakni akal yang kesanggupannya berpikir secara murni abstrak telah mulai kelihatan, ia dapat menangkap pengertian dan kaidah umum, seperti seluruh lebih besar dari bagian, 3. Akal actual ( al aqal fi alfi’al), yakni akal yang telah lebih mudah dan telah lebih banyak dapat menanggap pengertian dan kaidah umum dimaksud, dan akal actual ini merupakan gudang dari arti-arti abstrak itu, yang dapat dikeluarkan setiap kali dikehendaki, dan 4. Akal perolehan (al aqal al mustafat), yakni akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali. Akal dalam derajat ke empat inilah yang tertinggi dan terkuat dayanya yang memiliki filosof, dan yang dapat memahami alam murni abstrak ( yang tak pernah berada dalam materi). [5]

Dengan alat-alat potensial tersebut manusia mempunyai daya untuk melaksanakan amanah Allah, disisi lain juga mempunyai daya untuk mengabaikannya. Manusia mmepunyai daya yang mengarah pada jalan ketakwaan, disisi lain juga mempunyai daya yang mengarah pada jalan kefasikan. Sebagai konsekwensi logis atas pemberian daya terse but, manusia mempunyai kebebasan.[6] Sehingga ketundukan kepada Allah tidak terjadi secara otomatis dan pasti sebagaimana robot, melainkan karena pilihan dan keputusannya manusia sendiri.

B. Sifat –sifat Dasar Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Sifat-sifat dasar manusia dapat dibedakan menjadi sifat-sifat positif dan sifat-sifat negative diantaranya sifat-sifat positif, dalam bahasa agama sering disebut dengan titrah yaitu suatu kekuatan atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya, untuk komitmen terhadap nilai keimanan kepadanya, cenderung kepada kebenaran (hanif) dan potensi itu merupakan ciptaan Allah.[7] Bila ditinjau dari aspek tersebut maka fitrah manusia itu cukup banyak macamnya, yang penting diantaranya, yaitu: (1) Fitrah beragama, yang merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk selalu pasrah, tunduk dan patuh pada Tuhan yang menguasai dan mengatur segala aspek kehidupan manusia, dan fitrah ini merupakan sentral yang mengarahkan dan mengontrol perkembangan fitrah-fitrah lainnya, (2) Fitrah berakal budi merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berpikir dan berdzikir dalam memahami tanda-tanda keagungan Tuhan yang ada di alam semesta, berkreasi dan berbudaya,s erta memahami persoalan dan tantangan hidup yang dihadapinya dan berusaha memecahkannya, (3) Fitrah kebersihan dan kesucian diri dan lingkungannya, (4) Fitrah bermoral / berakhlak yang mendorong manusia untuk berkomitmen terhadap norma-norma atau nilai-nilai dan aturan yang berlaku, (5) Fitrah kebenaran, yang mendorong manusia untuk selalu mencari dan mencapai kebenaran, (6) Fitrah kemerdekaan yang mendorong manusia untuk bersikap bebas / merdeka tidak terbelenggu dan diperbudak oleh sesuatu yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan, (7) Fitrah keadilan yang mendorong manusia untuk mewujudkan kesamaan hak serta menentang diskriminasi ras, etnik, bahasa dan sebagainya dan berusaha menjalin persatuan dan kesatuan dimuka bumi, (8) fitrah individu yang mendorong manusia untuk bersikap mandiri, bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan, mempertahankan harga diri dan kehormatannya, serta menjaga keselamatan diri dan hartanya, (9) Fitrah sosial yang mendorong manusia untuk hidup bersama, bekerja sama, bergotong royong,s aling membantu dan sebagainya, (10) Fitrah seksual yang mendorong seseorang untuk mengembangkan keturunan (berkembang biak), melanjutkan keturunan dan mewariskan tugas-tugas kepada generasi penerusnya, (11) Fitrah ekonomi yang mendorong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktivitas ekonomi, (12) Fitrah politik yang mendorong manusia untuk berusaha menyusun sesuatu kekuasaan dan institusi yang mampu melindungi kepentingan bersama, (13) Fitrah seni yang mendorong manusia untuk menghargai dan mengembangkan kebutuhkan seni dalam kehidupannya, dan fitrah-fitrah lain.[8]

Disamping sifat-sifat positif, manusia juga mempunyai sifat-sifat negative. Sifat-sifat tersebut antara lain:

  1. Manusia amat dholim dan amat bodoh ( al Ahzab 72). Manusia suka meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, manusia telah diberi berbagai alat-alat potensial dan potensi-potensi baik tertentu, untuk diaktualkan dalam kehidupan nyata dan diberi amanah, namun banyak yang tidak mau tahu dan mengabaikannya
  2. Manusia adalah makhluk yang banyak membantah dan menentang ajaran Allah yang telah menciptakannya dan yang telah memberi berbagai macam nikmat (al Kahfi ayat 54). Manusia telah diberi alat-alat potensial seperti panca indera, akal pikiran dan lain-lain, namun digunakan untuk membantah dan menentang ajaran Tuhannya.
  3. Manusia itu bersifat tergesa-gesa ( al Isra 11), dalam arti suka menuntut suatu kebaikan dan keuntungan apa saja dengan segera, dan suka mengambil jalan pintas dalam meraih sesuatu atas dorongan hawa nafsunya.
  4. Manusia adalah mudah lupa dan banyak salah. Manusia disebut sebagai insan (bahasa arab) serumpun dengan kata nisyan yang berarti tempat salah dan lupa (al insanu mahalul khoto’wa nisiyan). Sifat ini harus diakui manusia agar dirinya tidak bersikap angkuh dan sombong, sebaliknya ia justru diharapkan untuk bersedia mengakui kesalahan dan kelupannya dengna jalan kembali kepada jalan yang benar atau bertobat sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap manusia itu sangat banyak salah dan sebaik-baiknya orang yang banyak salam adalah orang yang sering bertobat kepada Allah”. (HR. Al Tarmidzi dan Ibnu Majah).
  5. Manusia sering mengingkari nikmat (al hajj ayat 66) dan mengingkari kebenaran Allah (al Isra’ ayat 89). Manusia telah diberi berbagai macam nikmat Allah agar disyukuri oleh manusia, dalam arti dgunakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai dengan kehendaknya, namun kebanyakan manusia mengingkarinya sehingga menimbulkan kerugian dan malapetaka bagi manusia itu sendiri
  6. Manusia itu mudah gelisah dan banyak keluh kesah serta sangat kikir ( al A’rajj ayat 19-21, al isra’ ayat 100) dalam arti manusia itu mudah cemas dan tidak tabah dalam menghadapi musibah, sangat mudah resah dan gelisah serta kehilangan ketika ditimpa musibah. Namun ketika diberi nikmat, maka ia bersikap serakah, loba dan sangat kikir, serta tidak mempunyai kepedulian sosial.[9]

Karena manusia dianugerahi kemampuan memilih atau mempunyai kebebasan, maka dalam perkembangannya dari waktu ke waktu terdapat yang mengarah kepada pilihan baiknya (jalan ketaqwaan) sebagai aktualisasi atas sifat-sifat positifnya dan ada pula yang mengarah pada pilihan buruknya (jalan kefasikan, sebagai implikasi dari teraktualnya sifat-sifat negatifnya. Pada kontek ini pendidikan Islam berfungsi untuk menumbuh kembangkan sifat-sifat positif manusia, serta membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menghilangkan sifat-sifat negative yang melekat pada dirinya agar tidak sampai mendominasi dalam kehidupannya.

C. Manusia Sebagai Elemen Utama Dalam Pendidikan Islam

Dididik dan mendidik merupakan fenomena yang unik bagi manusia. Bisa jadi hewan juga mampu “dididik dan mendidik”, namun manusia mempunyai kelebihan dari hewean. “Pendidikan hewan dijalankan hanya secara intinktif.” Kemampuan “dididik dan mendidik” yang ada pada hewan tertentu, tidak ditemukan pada semua jenis hewan dan tidak dipelajari dari hewan yang lain, namun merupakan kemampuan yang sudah ada pada tiap-tiap hewan yang sifatnya tetap. Ada juga hewan yang dapat dilatih untuk melakukan sesuatu: anjing, sapid an kuda misalnya, namun sifatnya terbatas, artinya hanya dapat dirubah dan dibentuk dalam batas-batas tertentu tindakan hewan tersebut dilakukan secara otomatis dan tanpa dipikirkan lebih dahulu. Sehingga tindakan hewan tersebut bukanlah tindakan pendidikan, melainkan tindakan “Dressur, sebuah istilah yang lazim digunakan untuk itu. Manusia mendresur kuda untuk menarik dokar, mendresur sapi untuk membajak dan lain sebagainya.[10]

Pendidikan merupakan produk khusus yang hanya terdapat pada manusia, mausia dilukiskan sebagai: animal edocandum (manusia adalah makhluk yang harus dididik), animal edo cabile (manusia adalah makhluk yang dapat dididik) dan homo edo candus (manusia adalah makhluk yang bukan saja harus dan dapat dididik tetapi harus dan dapat mendidik). Pada kalimat homo pada kalimat homo edo candus “ inilah letak perbedaan prinsipil antara manusia dan hewan dan bisa saja hewan dapat dilatih melakukan tindakan diluar kebisaaan naturalnya, monyet nak sepeda misalnya, namun tidak dapat mentransformasikan “pengetahuan” barunya tersebut pada hewan lainnya.[11]

Dengan adanya pendidikan inilah manusia dapat menciptakan kebudayaan dan peradaban karena pengetahuan dari generasio sebelumnya dapat ditransformasikan pada generasi selanjutnya dan pengetahuan dari suatu ras / suku / bangsa tertentu dapat ditransformasikan kepada yang lain, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh seekor kura-kura meskipun usianya ratusan tahun.

Disis lain manusia juga tidak dapat dilepaskan dari pendidikan sebab manusia adalah animal edo candum (manusia yang harus dididik). Proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia tidak akan berkembang dengna baik tanpa adanya pendidikan. Penelitian terhadap anak terlantar, yaitu Victor, perancis 1799 peter (India, 1920), yang diasuh serigala menunjukkan bahwa segala gerak-gerik dan tingkah lakunya menyerupai serigala. Contoh ini membuktikan bahwa tanpa pendidikan maka potensi manusia tidak dapat berkembang, selayaknya manusia pada umumnya.[12]

Dengan demikian manusia merupakan elemen utama dalam pendidikan. Karena hanya manusia yang harus dan dapat dididik serta harus dan dapat mendidik. Tanpa pendidikan perkembangan manusia tidak dapat berjalan secara optimal.

D. Pengembangan Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Hakekat manusia diciptakan Allah adalah untuk mengemban tugas sebagai Abdullah dan khalifatullah dimuka bumi. Kedua misi manusia tersebut, baik sebagai Abdullah maupun khalifatullah, merupakan perjanjian primordial antara manusia dan Allah. Untuk mengemban misi tersebut, manusia dibekali alat-alat potensial, sehingga manusia dapat mengetahui, memahami dan menjalankan tugas tersebut. Namun manusia mudah jatuh dan tergelincir sehingga melupakan misi yang harus diembannya.

Pengabaikan tugas manusia tersebut dapat disebabkan karena manusia tidak menggunakan alat-alat potensialnya untuk memikirkan dan merenungkannya sehingga dapat memahami hakekat manusia diciptakan di dunia ini. Bisa jadi manusia telah mengetahuinya, namun terkalahkan oleh godaan setan, baik yang berupa jin maupun manusia, budaya negative yang berkembang disekitarnya[13] maupun bujuk rayu dunia.

Sehingga pendidikan Islam berfungsi untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah tersebut, yaitu menjalankan tugas-tugasnya hidupnya dimuka bumi baik sebagai Abdullah (hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan kehendaknya serta mengabdi hanya kepadanya), maupun sebagai khalifah Allah dimuka bumi, yang menyangkit pelaksanaan tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri dalam keluarga / rumah tangga, dalam masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam semesta. Dengan adanya pendidikan ini diharapkan manusia yang belum mengetahui tugas manusia ini menjadi mengetahui dan manusia yang tergelincir dari misi awalnya dapat kembali lagi kejalannya. Pada konteks ini pendidikan Islam memainkan peran yang signifikan dalam membantu manusia agar tetap pada “jalan kebenaran” meningingat :Allah sudah tidak mengutus Nabi / Rasul lagi” untuk mengingatkan manusia.

Sebagai Abdullah manusia dituntu untuk dapat menerima Allah sebagai pusat orientasi kehidupannya, yang diekspresikan dalam bentuk ketaatan dan kepasrahannya hanya kepadanya saja. Menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya berarti seluruh hidupnya disemangati oleh niatan untuk mengabdi hanya pada Allah dan tidak menjadikan selain dirinya sebagai sandaran. Sedangkan khalifallah dapat dipandang sebagai perwujudan dari pelaksanaan.

Pengabdian kepada Allah Abdullah, sebuah amanah yang hanya diberikan pada manusia. Pengangkatan manusia menjadi khalifah di bumi mengandung pengertian bahwa manusia mendapat tugas khusus dari Allah untuk menjadi “pengganti wakil atau kuasa-Nya” dalam mewujudkan segala kehendak dan kekuasaannya di muka bumi, serta segala fungsi dan perannya terhadap alam semesta ini. Tugas manusia sebeagai khalifah Allah dimuka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran dimuka bumi (QS. Hud: 61) serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (QS. Al Maidah: 16).

Dengan demikian pendidikan Islam berfungsi membimbing mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah, menjalankan hidupnya di muka bumi, baik sebagai Abdullah maupun sebagai khalifatullah.

Supaya manusia dapat mengemban tugas sebagai Abdillah khalifatullah, maka tidak bisa hanya dibekali dengan al ulum, al naqliyah seperti studi al Qur’an, studi hadits, sireh Nabawiyah, Tauhid, Ushul Fiqih dan Fiqih, dan bahasa Arab, namun juga harus dibekali dengan al ulum al aqliyah seperti psikologi, ekonomi, politik, sosiologi, antropologi, fisika, biologi dan lain sebagainya.

Meskipun begitu tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi harus dipahami sebagai bagian dari pengabadian kepada Allah (Abdullah). Oleh karena itu,d alam mengemban tugas sebagai khalifah Allah harus disemangati oleh spirit ibadah kepada Allah, sehinga manusia tidak sekedar hanya mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan hidup dimuka bumi saja, namun lebih diorientasikan untuk mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan di muka bumi sesuai dengan kehendak Allah.


BAB III

KESIMPULAN

Manusia terdiri dari substansi yaitu substansi jasad / materi, dan substansi immateri / non jasad yaitu peniupan ruh (ciptaan Allah) ke dalam diri manusia. Sehingga manusia sering disebut sebagai makhluk dwi tunggal yang terdiri atas unsur jasmaniah dan unsur rohaniah.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan abd.

Dalam upaya mengemban amanat Allah SWT, manusia memiliki 3 jiwa yaitu jiwa tumbuhan, jiwa binatang, jiwa manusia.

Manusia memiliki sifat-sifat positif yaitu fitrah beragama, fitrah berakal budi, fitrah kebersihan dan kesucian, fitrah bermoral / berakhlak fitrah kebenaran, fitrah kemerdekaan, fitrah keadilan, fitrah persamaan dan persatuan, fitrah untuk mandiri, fitrah sosial, fitrah seksual, fitrah ekonomi, fitrah politik, fitrah seni. Disamping itu manusia juga memiliki sifat-sifat negative diantaranya, manusia amat dholim, manusia makhluk yang banyak membantah, manusia bersifat tergesa-gesa, manusia itu mudah lupa, manusia sering mengingkari nikmat, manusia mudah gelisah.

Manusia merupakan elemen utama dalam pendidikan. Karena hanya manusia yang harus dan dapat dididik serta harus dan dapat mendidik, tanpa pendidikan perkembangan manusia tidak dapat berjalan secara optimal.

Pendidikan Islam berfungsi membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah, yaitu menjalankan hidupnya dimuka bumi bagi sebagai Abdullah maupun sebagai khalifatullah.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Abdul, Diktat Filsafat Pendidikan Islam, (Tulungagung : STAIN Tulungagung, 2002).

Djumberansyah, M., Filsafat Pendidikan, (Surabaya, Karya Abditama, 1994).

M., Arifin,. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1993).

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam : Upaya Mengefektifkan Agama Islam di Sekolah Rosdakarya, (Bandung, 2001)

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta : Ciputat Press, 2002 ).



[1] Amanah sebagai Abdullah tercermin dalam dialog antara Allah dengan ruh manusia, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 172”…bukanlah Aku ini Tuhanmu? Kemudian ruh manusia itu menjawab: Benar kami telah menyaksikan”. Sedangkan amanah sebagai khalifah tercermin dalam sebuah peristiwa ketika Allah menawari sebuah amanah kepada semua makhluknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Akhzab ayat 72 “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah pada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya memikul amanah itu dan mereka khawatir mengkhianatinya dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amatlah dholim dan bodoh”.

[2] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Historis, Teorities dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 56

[3] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Rosdakarya, 2001), hlm. 22-23

[4] Abdul Azis, Diktat Filsafat Pendidikan Islam, (Tulungagung : STAIN Tulungagung, 2002), hlm. 15

[5] Ibid., hal. 146-148

[6] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1993), hlm. 156-157

[7] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, hlm. 16

[8] Ibid., hlm. 150-153

[9] Ibid, hlm. 25-26

[10] M. Djumberansyah, Filsafat Pendidikan, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hlm. 111

[11] Ibid, hlm. 110

[12] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, hlm. 150-153

[13] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar